https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/issue/feed ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur 2020-12-01T00:00:00+07:00 Reginaldo Christophori Lake tarsitekturunwira@gmail.com Open Journal Systems <div style="text-align: justify;"> <div style="text-align: justify;"> <table style="width: 100.475%;" cellspacing="0" cellpadding="0"> <tbody> <tr> <td style="height: 40px; vertical-align: middle; background-color: #c1d5d8; width: 100%; text-align: justify;"><span style="color: #010a0b;"><strong>&nbsp; <img src="https://ejournal2.undip.ac.id/public/site/images/istadi_bcrec_ed/new_ani.gif" alt="new"> Current issue 2020:</strong> <a title="Current Issue" href="https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/issue/view/44">ARTEKS Volume 5 Issue 1 April 2020</a>&nbsp;<strong>| </strong><a title="Article in Progress Issue" href="https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/issue/view/45">In Progress Issue</a> <strong>| </strong><a title="Archive" href="https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/issue/archive">Archive</a><strong>&nbsp;| </strong><a title="Submission" href="https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/about/submissions">Start Submission</a><strong><br></strong></span></td> </tr> </tbody> </table> </div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> </div> <div style="text-align: justify;"><strong>ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur</strong> is a medium of scholarly publication published &nbsp;by <a title="UNWIRA" href="https://www.unwira.ac.id/index.html" target="_blank" rel="noopener">Architecture Study Program of Universitas Katolik Widya Mandira</a> in collaboration with Indonesia Architect Association of [IAI] NTT Region, <a title="IPBLI Journal" href="http://iplbi.or.id/jurnal/" target="_blank" rel="noopener">Indonesian Assisted Environment Research Association [IPBLI]</a> and <a title="ARTEKS Indexed by SATUPENA RI" href="http://satupena.id/2019/11/13/arteks-jurnal-teknik-arsitektur-unwira/" target="_blank" rel="noopener">Indonesia Writers Guild [SATUPENA RI]</a>. It serves several goals i.e. being a medium of communication, dissemination and exchange of information, and a medium of publishing scholarly research in the field of Architecture. <strong>ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur</strong> is published with the frequency of publishing three times a year, in <strong>April</strong>,&nbsp;<strong>August</strong>,&nbsp;and <strong>December</strong>.&nbsp; First issue of 2016, <a title="ARTEKS December 2016" href="https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/issue/view/3" target="_blank" rel="noopener">Volume 1, Nomor 1, December 2016</a>. Print ISSN <span class="serial-item serialDetailsIssn"><a title="pISSN ARTEKS" href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1474331651&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">2541-0598</a></span>&nbsp;[<a title="ARTEKS print" href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2541-0598" target="_blank" rel="noopener">pISSN Portal</a>]&nbsp;<span class="serial-item serialDetailsEissn"><span class="serial-title">Online ISSN</span>&nbsp;<a title="eISSN" href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1474944543&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">2541-1217</a>&nbsp;[<a title="ARTEKS" href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2541-1217" target="_blank" rel="noopener">eISSN Portal</a>]. The journal registered in the CrossRef system with Digital Object Identifier [DOI] prefix <a title="ARTEKS DOI" href="https://search.crossref.org/?q=arteks&amp;container-title=ARTEKS%2C+Jurnal+Teknik+Arsitektur&amp;publisher-name=Prodi.+Teknik+Arsitektur+Universitas+Katolik+Widya+Mandira&amp;page=2" target="_blank" rel="noopener">10.30822/arteks</a>.&nbsp;Articles can be accepted in 2 languages [Indonesian and English]. </span><strong>ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur </strong>covers general as well as specific issues in the field of Architecture such as: (1) Theory, History, Architectural Design; (2) Architectural Science and Technology; (3) Urban Architecture and Design; (4) House and Housing Architecture; (5) Interior and Exterior Design.</div> <div style="text-align: justify;">&nbsp;</div> <div style="text-align: justify;">The journal, serving as a forum for the study of Indonesian Architecture, supports focused studies of particular themes and interdisciplinary studies in relation to the subject. It has become a medium of exchange of ideas and research findings from various traditions of learning that have interacted in the scholarly manner. Editor invite all relevant parties to contribute in publishing sciencetific articles which have never been published before. For articles (paper) online submission just simply visit the link <a title="Submission ARTEKS" href="https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/about/submissions" target="_blank" rel="noopener">HERE</a>&nbsp;and for further information you can contact us at&nbsp;<a href="mailto:arsitektur@uinsby.ac.id">arteks@unwira.ac.id</a>&nbsp;or&nbsp;<a href="mailto:emarajournal@gmail.com">tarsitekturunwira@gmail.com</a></div> https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/389 Penerapan prinsip desain Daniel Libeskind pada fasilitas permainan tradisional Melayu Riau di Pekanbaru 2020-05-30T20:44:51+07:00 Elza Fitria Ningsih elza.fitria1228@student.unri.ac.id Yohannes Firzal yfirzal@eng.unri.ac.id Pedia Aldy elza.fitria1228@student.unri.ac.id <p>Kota Pekanbaru memiliki wahana anak yang beraneka ragam. Wahana tersebut umumnya dapat dijumpai pada <em>mall </em>atau pusat komersial tertutup yang cenderung menyediakan permainan modern. Permainan modern lumrah adanya sebagai bagian dari kemajuan teknologi yang semakin canggih. Beda halnya dengan zaman dahulu, anak-anak lebih menyukai bermain dengan mengambil tempat di tanah lapangan kosong. Kondisi dua hal yang berbeda antara permainan modern dengan permainan tradisional mulai ditandai dengan semakin banyaknya jenis permainan modern dan hilangnya permainan tradisional. Permainan Tradisional yang dimaksud ialah jenis permainan yang berasal dari daerah Melayu Riau. Salah satu jenis permainannya yaitu congklak, statak, gasing dan sebagainya. Maka dari itu, dipihlah judul fasilitas permainan tradisional Melayu Riau yang gunanya agar permainan tradisional ini tetap dapat dilestarikan khususnya anak-anak dapat bermain sambil belajar mengenal nilai-nilai tradisional. Dengan konsep desain gerak dalam bermain Statak, fasilitas ini dirancang dengan fungsi utamanya sebagai tempat bermain. Dengan menggunakan metode primer berupa survei, serta berbagai sumber literatur dan standar fasilitas permainan sebagai metode sekunder. Fasilitas permainan tradisional ini mengedepankan prinsip desain Daniel Libeskind sehingga dapat menciptakan suatu desain modern yang tetap kental dengan nilai tradisionalnya. Meskipun hasil desain fasilitas memiliki banyak sudut geometris namun tetap aman dan tidak mengganggu pergerakan anak-anak dalam bermain.</p> 2020-04-18T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Elza Fitria Ningsih, Yohannes Firzal, Pedia Aldy https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/391 Perancangan coconut center dengan pendekatan biomimetika di Tembilahan 2020-04-18T09:01:45+07:00 Roqim Azyan Kemas kemas.roqim3873@student.unri.ac.id Yohannes Firzal yfirzal@eng.unri.ac.id Mira Dharma Susilawaty kemas.roqim3873@student.unri.ac.id <p>Tembilahan dikenal sebagai Negeri Hamparan Kelapa Dunia mempunyai kerajinan yang berbahan baku kelapa, baik itu dari batok, batang, dan bahkan dari sabut kelapa. &nbsp;Potensi kerajinan berbahan baku kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir belum mendapat respon yang positif dari masyarakat karena masih kuatnya persaingan dengan produksi produk-produk berbahan baku lainnya, padahal kelapa merupakan salah satu potensi terbesar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi daerah. Untuk menunjang berkembangnya kerajinan berbahan baku kelapa, maka diperlukanlah <em>Coconut Center </em>yang dapat mewadahi berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan kelapa seperti pusat kerajinan tangan dan pengembangan kelapa. Dengan menggunakan metode primer berupa survei, serta berbagai sumber literatur sebagai metode sekunder. Pada perancangan arsitektur <em>Coconut Center </em>ini akan digunakan pendekatan tema Arsitektur Biomimetika yang pada dasarnya menggunakan alam sebagai model dan acuan dalam ide-ide perancangan, kiranya dapat memperkuat aspek alam pada objek rancangan yang mengacu pada fungsi Kerajinan, penelitian, produksi, edukasi, dan rekreasi.</p> 2020-04-18T08:41:35+07:00 Copyright (c) 2020 Roqim Azyan Kemas, Yohannes Firzal, Mira Dharma Susilawaty https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/394 Karakteristik desain ruang terbuka hijau pada sempadan sungai perkotaan 2020-04-18T09:01:47+07:00 Kusriantari Fenny Aprillia fenny.aprillia@iti.ac.id <p>Desain ruang terbuka hijau (RTH) sempadan sungai perkotaan harus dapat memenuhi fungsi ekologis maupun fungsi sosial selayaknya jenis RTH lain. RTH Teras Cikapundung, RTH Jaletreng <em>River Park</em>, dan RTH Taman Kaulinan memiliki karakteristik desainnya masing-masing dalam mewujudkan kedua fungsi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap karakteristik desain RTH sempadan sungai perkotaan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan ketiga objek penelitian memiliki kesamaan dan perbedaan yang saling melengkapi dalam usaha pemenuhan fungsi ekologis dan fungsi sosial. Fungsi ekologis dapat dipenuhi dengan baik pada RTH Teras Cikapundung dan RTH Jaletreng <em>River Park</em>, sedangkan fungsi sosial dapat dipenuhi dengan baik pada ketiga RTH. Kesimpulan yang didapat yaitu (a) fungsi ekologis dan fungsi sosial harus dapat dipenuhi dengan seimbang, (b) karena letaknya berada di area sempadan sungai, diharapkan sungai bisa dijadikan potensi dalam pemenuhan fungsi ekologis maupun fungsi sosial, (c) area sempadan sungai dipertahankan area alaminya agar habitat satwa dapat terjaga, namun dapat dipadukan dengan area buatan berupa penguat untuk mencegah erosi dan sedimentasi sungai, (d) badan sungai dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik pengunjung yaitu dengan cara mendesain area duduk menghadap sungai, mendesain sirkulasi disepanjang sempadan sungai, serta mengadakan permainan sungai.</p> 2020-04-18T08:51:13+07:00 Copyright (c) 2020 Kusriantari Fenny Aprillia https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/456 Integrasi spasial dalam perancangan batas fisik perumahan kota Studi Kasus : Perumahan Setra Duta, Bandung, Jawa Barat 2020-04-25T14:46:15+07:00 Fauziyyah Sofiyah Radliyatullah fauziyyahsof2@gmail.com Yohanes Basuki Dwisusanto jbase@unpar.ac.id <p>Semakin meningkatnya jumlah penduduk suatu kota, maka semakin tinggi pula tingkat kebutuhan warga akan rumah tinggal.&nbsp; Kebutuhan masyarakat akan rumah tinggal, dijawab oleh pihak pengembang dengan membangun perumahan pada sejumlah wilayah.&nbsp; Namun, fenomena yang terjadi saat ini adalah pembangunan perumahan seringkali tidak memperhatikan keberadaan permukiman yang sudah ada terlebih dahulu, sehingga terciptalah batas fisik dengan kualitas fisik spasial yang buruk dan menimbulkan sekat-sekat antara perumahan baru dengan lingkungan sekitarnya.&nbsp; Batas fisik yang membatas perumahan kota ini tentunya mendorong fenomena segregasi spasial pada lingkungan sekitarnya.&nbsp; Dalam menanggapi fenomena tersebut, maka tujuan utama dari jurnal ini adalah untuk mengetahui sejauh mana integrasi spasial yang diterapkan pada batas fisik perumahan Setra Duta Bandung.&nbsp; Metode pembahasan dilakukan dengan menganalisa masalah dan peluang yang muncul pada batas fisik di kawasan studi, bersinergi dengan studi literatur mengenai integrasi spasial pada batas fisik perumahan kota. Dalam pengamatan, didapati bahwa batas fisik pada perumahan Setra Duta menunjukan segregasi spasial dengan bagian kota yang melingkupinya.&nbsp; Segregasi spasial tercipta akibat adanya sesuatu berupa fisik yang menyebabkan atau memperjelas perbedaan yang ada.&nbsp; Fenomena ini dapat berdampak negatif seperti memburuknya kualitas fisik spasial dan ruang bersama pada area perbatasan perumahan.</p> 2020-04-25T14:46:15+07:00 Copyright (c) 2020 Fauziyyah Sofiyah Radliyatullah, Yohanes Basuki Dwisusanto https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/465 Genealogi arsitektur modern Indonesia 2020-04-27T15:19:40+07:00 Johannes Adiyanto johannesadiyanto@yahoo.com <p><em>Indonesian architecture commonly said have a different perspective with European or American architecture. Mangunwijaya declares as Wastuwidya, Prijotomo said Nusantara architecture. This paper did not study those differences, but focus on why the understanding of architecture nowadays in Indonesia has the same principal with European or American architecture? This paper did not discuss architecture identities but talk about the reality of architecture which happens in Indonesia. </em><em>This paper used a historical approach with the synchronic - diachronic method. The aim of using those methods is to search the significance between timeline historical and with the architecture historic content. </em><em>A paper showing that modern architecture came to Nusantara/Indonesia as proses. That proses are the consequences of foreign presence in this country. Modern architecture was adapted to local climate and social culture conditions. conditions. Besides that, there is also the political role of power which places architecture as one of the 'tools' marking the presence of that power - which occurred during the Daendels and Soekarno era. </em><em>The thing to note is that modern architecture in the Archipelago / Indonesia has a different presence process than what happened in Europe / America. Modern architecture in this country is not a product but a process.</em></p> 2020-04-27T15:19:40+07:00 Copyright (c) 2020 Johannes Adiyanto https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/442 Konsep arsitektur biomimetik pada bangunan Oseanarium 2020-05-11T08:53:15+07:00 Adhelia Adjani Rahmah adhladjnr@gmail.com Wafirul Aqli wafirul.aqli@ftumj.ac.id <p>Konsep arsitektur biomimetik yang masih terbilang jarang didengar memiliki banyak keuntungan yang dapat diterapkan pada sebuah karya arsitektur. Tujuan dari penerapan konsep arsitektur biomimetik ini adalah untuk memaksimalkan fungsi, mencapai efisiensi energi, dan meningkatkan kualitas objek dan aktivitas pengguna melalui penerapan salah satu atau lebih kriteria biologis dari 11 kriteria biologis. Bangunan oseanarium merupakan bangunan museum dengan biota laut sebagai objek eksebisinya dengan fungsi sebagai sarana edukasi, sarana rekreasi, pusat observasi dan sarana konservasi biota laut. Bangunan oseanarium menjadi salah satu sarana edukasi yang paling mudah diterima masyarakat. Hal ini menjadi amat penting di saat ini dimana dibutuhkannya edukasi mengenai biota dan kehidupan laut yang semakin lama terus terancam oleh penimbunan sampah dan maraknya penangkapan ikan secara besar-besaran. Penelitian mengenai konsep arsitektur pada bangunan oseanarium ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dengan mengumpulkan data dan studi baik dari observasi dan literatur. Adapun kesimpulan berupa pengaruh keberadaan dari setiap kriteria biologis yang diterapkan pada sebuah bangunan oseanarium.</p> 2020-05-11T08:53:15+07:00 Copyright (c) 2020 Adhelia Adjani Rahmah, Wafirul Aqli https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/488 The use of minimal surface principles and multiplex joinery system for designing post-disaster construction systems 2020-05-14T17:15:04+07:00 Stephanus Evert Indrawan sindrawan@ciputra.ac.id Gervasius Herry Purwoko gpurwoko@ciputra.ac.id Tri Noviyanto P. Utomo tommy@ciputa.ac.id <p><em>Indonesia is located in a geographic area that is prone to disasters; thus, it is necessary to raise awareness about the science of disaster mitigation, including the provision of safe/suitable temporary shelter/building facilities for victims. In a number of disasters, it can be seen that confusion and access to the affected transportation will lead to difficulties in delivering disaster relief and supporting equipment to build post-disaster facilities. Therefore, we need a construction system that is easily assembled, stable, and easy to carry. In this case, the designer uses one type of shell structure, i.e. Minimum Surface principle which is the basis of the Inflatable Structure or Pneumatic Structure. By developing lightweight structures that refer to this principle, the designer can process architectural forms that are lighter and more stable. In this paper, the discussion is limited to the use of materials made from plywood based on the principle of Minimal Surface structure because this material is easily obtained and processed. The research questions of this study are how to create a fast raft construction system for post-disaster needs with plywood base material and how to process the connection system or plywood construction to have the structural capability.</em></p> 2020-05-14T17:15:04+07:00 Copyright (c) 2020 Stephanus Evert Indrawan, Gervasius Herry Purwoko, Tri Noviyanto P. Utomo https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/487 "Bersenang-senang dalam keberlanjutan": Konsep Hedonistic Sustainability pada karya Bjarke Ingels 2020-05-18T08:29:54+07:00 Nita Dwi Estika nitadwiestika@gmail.com Yudhistira Kusuma kusumayudhistira@yahoo.com Dewi Retno Prameswari dr.prameswari@gmail.com Iwan Sudradjat iwansudr@ar.itb.ac.id <p>Arsitek kontemporer akan menyoroti gagasan-gagasan masa lalu kemudian menyuguhkan manifesto baru yang mungkin dipandang utopis. Bjarke Ingels yang dikenal dengan rancangannya yang ekspresif, hedonis, dan kontras dengan lingkungan di sekitarnya mengintroduksi konsep <em>hedonistic sustainability </em>sebagai respons atas situasi tuntutan hidup berkelanjutan yang ramah lingkungan melalui sudut pandang yang berbeda. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan secara komprehensif konsep <em>hedonistic sustainability </em>pada pemikiran Bjarke Ingels sebagai arsitek kontemporer di abad 21 melalui karya-karyanya. Studi literatur dilakukan dari berbagai sumber untuk memaparkan pemikiran Bjarke Ingels. <em>Hedonistic sustainability </em>menggabungkan ide-ide berkelanjutan, kesenangan, dan komunalitas di dalamnya. Sementara dalam proses perancangan arsitektur karya Bjarke Ingels, konsep ini diterapkan melalui pendekatan <em>simulation approach </em>dan <em>ironic approach. </em>Selanjutnya, representasi konsep ini digunakan sebagai media yang mewadahi pengguna dalam mengeksplorasi objek rancangan yang telah direncanakan secara konkret. Ide kesenangan dan komunalitas dimunculkan melalui rancangan yang mewadahi berbagai aktivitas penggunanya. Pemikiran Bjarke Ingels yang dipaparkan dalam tulisan ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengetahuan dan pertimbangan dalam proses perancangan arsitektur kontemporer di Indonesia.</p> 2020-05-16T19:03:55+07:00 Copyright (c) 2020 Nita Dwi Estika, Yudhistira Kusuma, Dewi Retno Prameswari, Iwan Sudradjat https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/540 Penerapan bentuk arsitektur tradisional Bali pada teater kesenian di Kabupaten Badung 2020-05-30T20:22:56+07:00 Alan Darma Saputra alandarmas23@gmail.com Rahadhian Prajudi Herwindo dodo@unpar.ac.id Yohanes Karyadi Kusliansjah karyadi@unpar.ac.id <p>Pulau Bali merupakan destinasi wisata yang terkenal di dunia. Akibatnya Bali menjadi pusat pertemuan wisatawan dari banyak negara dan pusat pertemuan multikultur sehingga timbul kekhawatiran akan hilangnya arsitektur tradisional Bali. Maka dari itu perlunya dilakukan penyesuaian dengan meminjam bentuk bangunan Bali lama kepada bangunan yang baru. Sehingga kemunculan fungsi baru bukanlah hal yang tabu, melainkan menjadi tantangan desain baru di dalam arsitektur Bali. Teori yang dipilih adalah arsitektur tradisional Bali dan ketentuan teater yang akan dipertemukan dalam&nbsp; arsitektur neo-vernakular. Metoda yang digunakan dalam menelusuri kasus studi adalah kualitatif deskriptif dengan proses mengambil aspek-aspek penting dalam teori Arsitektur Tradisional Bali dan ketentuan teater, kemudian menyatukannya di dalam arsitektur Neo-vernakular. Hasil studi menghasilkan aplikasi Asta Kosala-kosali pada ruang teater; modifikasi bentuk atap bangunan, badan dan kaki bangunan bercitra Bali serta perpaduan sistem konstruksi dan material pada arsitektur Bali teater.</p> 2020-05-30T18:33:49+07:00 Copyright (c) 2020 Alan Darma Saputra, Rahadhian Prajudi Herwindo, Yohanes Karyadi Kusliansjah https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/504 Peran ruang bagi keberlanjutan permainan tradisional anak 2020-06-03T11:55:41+07:00 Dhini Dewiyanti Tantarto dhini.dewiyanti@email.unikom.ac.id Dianna Astrid Hertoery astridhrs@yahoo.com <p><em>Play activities are the world of children who are naturally possessed since childhood. In playing, there is an element of learning, and vice versa, while learning something sometimes children also accompany it by playing. Traditional children's games have philosophical values ​​that contain a moral message behind them. Over time, many traditional games have been replaced by games that prioritize technological advancements. Many children today, who are no longer familiar with traditional games. The reduced play space and public open space in quantity and quality for children are often considered as one of the factors causing the traditional games to be forgotten. The existence of the environment, including play areas for children, can accommodate the needs of positive play for children's development. This paper discusses the traditional games that are still known by today's generation of children, and what is the role of space in the continuity of traditional games. This study will focus on games in West Java. The study was conducted through observation and distribution of questionnaires in children aged 6-12 years, who live in the city of Bandung, in an urban residential environment. The results of the analysis provide an overview of the types of traditional games that are still known by children, the space favored by children, and the role of space on children's willingness to play. These results provide an overview of the characteristics of space that stimulates traditional games.</em></p> 2020-06-03T11:44:52+07:00 Copyright (c) 2020 Dhini Dewiyanti Tantarto https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/view/551 The performance of vertical garden for urban housing thermal environment 2020-06-04T07:45:19+07:00 Agung Murti Nugroho sasimurti@yahoo.co.id <p><em>The urban thermal environment plays a vital role in the achievement of comfort and quality of life, especially in today's pandemic conditions. One solution to the declining urban climate as the green area decreases is through the development of the urban vertical garden. This study focuses on the vertical garden's performance on decreasing air temperature, surface temperature, and CO<sub>2</sub> levels. The method used is field measurements of air temperature, surface temperature, and CO<sub>2</sub> levels inside and outside the building along with modification of the vertical garden's distances (0.5 m and 1 m) and the type of plants (Amaranthus hybridus, Brassica juncea, Apium graveolens linn, and Orthosiphon spicatus). The average air temperature reduction by 0.75 °C, decrease the average surface temperature by 16.4 ºC, and decrease the average CO<sub>2</sub> levels by 58.8 ppm. The results showed the Amaranthus hybridus achieved the maximum reduction in air temperature by 6 ºC with a distance of 0.5 m and a maximum decrease in the surface temperature by 26.3 ºC, while Apium graveolens linn achieved the most significant reduction in CO<sub>2</sub> level of 124 ppm. In conclusion, the closer the distance and the darker the leaf color as well as the specific plant type (Amaranthus hybridus) are the primary consideration in the application of vertical gardens in the urban house to reduce temperature on limited land.</em></p> 2020-06-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Agung Murti Nugroho