• LUMEN VERITATIS: Jurnal Filsafat dan Teologi | Oktober 2023
    Vol 14 No 2 (2023)

    Filsafat dari dahulu kala hingga kini berorientasi pada upaya mencari dan merumuskan pengertian-pengertian esensial dan universal. Filsafat pada dasarnya tidak bertujuan untuk merumuskan pengertian-pengertian absolut, universal dan tunggal. Filsafat juga bukan proyek untuk menghasilkan konsep-konsep baku, abstrak, canggih dan teknis. Tugas filsafat yang terpenting adalah sebagai aktivitas berpikir, suatu seni memahami. Berpikir yang dimaksud bukan berpikir kalkulatif (rasionalitas instrumental-teknis) melainkan berpikir meditatif dan reflektif. Melalui filsafat sebagai tugas berpikir, Ada yaitu totalitas realitas dihadapi dengan rasa takjub, rendah hati dan sederhana. Filsafat harus keluar dari jebakan metafisika kekuasaan totaliter yang cenderung menghegemonisasi yang lain atas nama kebenaran tunggal kepada filsafat yang merayakan pluralitas kebenaran dengan rendah hati. Itulah filsafat sebagai philo-sophia, cinta akan kebijaksanaan. 

     

  • LUMEN VERITATIS: Jurnal Filsafat dan Teologi| APRIL 2023
    Vol 14 No 1 (2023)

    Etika tanggung jawab levinian mengungkapkan gagasan untuk menempatkan orang lain sebagai subjek yang unik dan berbeda sama sekali melalui wajah mereka yang terlihat. Konsekuensinya adalah pihak lain harus dihormati dan dihargai sebagai subyek. Sekaligus kehadiran orang lain menjadi tanggung jawab “aku”, tidak menyerap orang lain untuk disamakan dengan diriku atau bahkan ditaklukkan atau dikuasai. Pemahaman politik kita tereduksi hanya pada pemahaman kontestasi politik elektoral saja. Politik kehilangan maknanya sebagai bentuk hidup bersama untuk mencapai kebaikan bersama (Bonum Commune).

    Dalam konteks Indonesia, etika terkandung tidak hanya dalam ajaran agama dan ketentuan hukum, tetapi juga dalam social decorum berupa adat istiadat dan nilai luhur sosial budaya. Di tengah perubahan sosial-budaya begitu cepat yang membuat tergerusnya nilai-nilai tersebut, perlu pemberdayaan dan revitalisasi nilai budaya yang kondusif dan suportif bagi penguatan etika politik dan integritas para penyelenggara negara.

  • LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Oktober 2022
    Vol 13 No 2 (2022)

    Manusia   adalah   mahluk   konfliktis   yaitu   mahluk   yang   selalu   terlibat   dalam   perbedaan, pertentangan,  dan  persaingan  baik  secara  sukarela  maupun  terpaksa.    Hal  tersebut  tidak  dapat dihindari karena merupakan aspek permanen dalam kehidupan sosial. Konflik pada tataran tertentu sangat  diperlukan  sebagai  sarana  perubahan  manusia  sebagai  anggota  masyarakat  agar  menjadi lebih  baik. Pandangan  kontemporer  mengenai  konflik  didasarkan  pada  anggapan  bahwa  konflik sesuatu  yang  tidak  dapat  dielakkan  sebagai  konsekuensi  logis  interaksi  manusia.    Namun  yang menjadi  persoalan  adalah  bukan  bagaimana  meredam  konflik,  tapi  bagaimana  menanganinya secara tepat sehingga tidak merusak hubungan antarpribadi bahkan merusak lingkungan. Konflik bukan  dijadikan  suatu  hal  yang  destruktif, melainkan  harus  dijadikan  suatu  hal  konstruktif  agar kehidupan masyarakat menjadi tertib. Perbedaan  dapat  menimbulkan  masalah  dalam  keberagaman.  Anti-persatuan  dan  kebencian terhadap   pemikiran   yang   tidak   sesuai   dapat   mengakibatkan   pemaksaan   dan   kekerasan. Radikalisme agama dalam negara mampu memecah persatuan dan ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat. (Redaksi)

  • LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | April 2022
    Vol 13 No 1 (2022)

    Hubungan manusia dengan alam adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sebagai satu kesatuan, semua hal tersebut saling berkaitan dan bersifat fungsional. Alam sebagai satu kesatuan sistem yang utuh merupakan kolektivitas dari serangkaian subsistem yang saling berhubungan, bergantung, dan fungsional satu sama lain. Alam adalah sebagai penyedia sumber kebutuhan hidup manusia. Seiring berjalannya waktu relasi antara keduanya mulai rusak karena keserakahan manusia yang berdampak buruk bagi alam. Setelah melalui fase tersebut manusia kemudian memiliki kesadaran untuk melestarikan alam agar sumber kebutuhan tetap terpenuhi. Keduanya saling menjunjung tinggi hak lestari.

  • LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Mei 2021 ~ Oktober 2021
    Vol 12 No 1 (2021)

    Kerahiman adalah asas dan spirit utama bagi terbangunnya sebuah relasi dan komunikasi yang bertanggung jawab dan manusiawi. Ketika manusia terus tergiring untuk mengagungkan teknologi, hadir pula penampakkan mulia yang tidak akan mungkin termakan oleh perkembangan zaman. Dialah kerahiman. Kerahiman yang diimani sebagai tindakan Allah yang paling mendasar; dengan mana Allah datang menjumpai, berelasi, berkomunikasi, sampai pada penyelamatan manusia melalui Yesus Kristus.

  • LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | November 2020 ~ April 2021
    Vol 11 No 2 (2021)

    Covid-19 menciptakan ketakutan global, kecemasan, dan penderitaan bagi seluruh umat manusia saat ini. Pandemi global ini telah menjadi monster pembunuh yang merenggut nyawa banyak orang. Di tengah situasi tragis ini, manusia mengajukan pertanyaan dan keraguan tentang kemahakuasaan dan kebaikan Tuhan. Sederhananya, virus korona adalah sesuatu yang berada di atas manusia. Faktanya jelas, hingga saat ini ia masih menjadi bumerang bagi manusia. Corona yang begitu ganas membuat banyak sekali persepsi yang bertebaran di masyarakat. Beberapa memproyeksikan korona dengan "dewa" postmodern. Bahkan ada yang mengatakan bahwa korona adalah akibat langsung dari dosa manusia. Atau bentuk hukuman dari Tuhan untuk manusia. Apakah korona dan Tuhan disamakan atau dibedakan?

  • LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Mei 2020 ~ Oktober 2020
    Vol 11 No 1 (2020)

    Lumen Veritatis edisi Oktober 2020 hadir dan teramu dalam rangkaian pemahaman akan iman dan pengetahuan. Wacana dasar yang tersaji melalui karya-karya para penulis, mulai dari Kitab Suci sebagai sumber keberimanan, Teologi sebagai tonggak, diikuti praktek-praktek teoritikal yang humanis, merupakan penyataan dari sebuah ekspresi pengetahuan. Di dalamnya, manusia yang melakukan pencaharian menyadari keterbatasan akan pengetahuannya, jika tanpa iman yang menyelamatkan.  

     

    EDITORIAL:

    Oktovianus Kosat

    Program Studi Ilmu Filsafat, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira

    Jl. Prof. Dr. Herman Yohanes – Penfui – Kupang - NTT

    Email: kosatkote11@gmail.com

  • LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | November 2019 ~ April 2020
    Vol 10 No 2 (2020)

    Tulisan yang disajikan dalam Lumen Veritatis edisi kali ini terangkai dalam beberapa fokus kajian yang meliputi kedua tema di atas (Agama dan Budaya). Berbagai eksplosari ilmiah dijalankan demi sebuah tatanan praksis yang bernilai filosofis.                 

    Kiranya keterjalinan kajian-kajian ini membawahi anjuran kebijaksanaan yang telah dicatatkan Aristoteles; First, have a definite, clear practical ideal; a goal, an objective. Second, have the necessary means to achieve your ends; wisdom, money, materials, and methods. Third, adjust all your means to that end. Bahwa, memiliki idealisme untuk sebuah tujuan membutuhkan sarana untuk persesuaian tersebut. Bahwa, agama yang ber-zaman, membutuhkan permenungan yang berbudaya. Ini menjadi bagian penting dari rutinitas ilmiah filsafat. Dan terungkap sebagai penegasan lanjutan bahwa, segala studi dan kajian terhadap berbagai ilmu, harus membawa kita ke dalam kesatuan relasi ilmu-ilmu tersebut.

    Kajian tentang Hauteas, selain sebagai perkenalan terhadap kultur keagamaan tradisional, juga membantu terjadinya inkulturasi keimanan orang Kristen. Sementara, kajian tentang Hak dan Tanggung Jawab Atas Lingkungan Hidup, mau memperlihatkan hakikat lingkungan dengan komponen biotik dan abiotik sangat mempengaruhi proses perkembangan seluruh makhluk.

    Selanjutnya, kajian terhadap tema Sexual Abuse menjadi salah satu cara untuk mengetahui pengaruhnya dalam hidup keagamaan. Diikuti kajian terhadap Pembentukan Karakter melalui analisis fenomena tradisi lisan yang menekankan adanya perjumpaan manusia dengan kebudayaan yang inkulturatif. Di samping itu, hadir juga sebuah refleksi teologis-filosofis terhadap kepercayaan agama asli di Sumba (Agama Marapu) tentang Perjalanan Jiwa ke ‘Kampung Leluhur’. Dan yang terakhir adalah sebuah kajian Fenomenologis dari isu jeritan semesta atas penyalahgunaan dan panggilan untuk bertanggung jawab.

  • LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Mei 2019 ~ Oktober 2019
    Vol 10 No 1 (2019)

    LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Mei 2019 ~ Oktober 2019

    Penggalan perjalanan dunia yang terjaring dalam setiap derap penafsiran, menghantar para agen untuk bergumul dari berbagai arah  menuju tujuan yang satu, memaknai dunia bagi bagian kehidupannya. Melalui alur pendidikan, para agen terarahkan demi status ‘rasul’ bagi kesejahteraan dan keselamatan masyarakat dunia (Herman P. Panda). Bukan tanpa alasan, bukan tanpa dasar arah ini berjalan. Karena satu jawaban terhadap seribu persoalan adalah pendidikan. Satu pemenuhan untuk kebutuhan manusia yang urgen adalah pendidikan (Kornelis Usboko).

    Sayap keadilan pun menebarkan aroma keharusan hadirnya. Sentuhan keadilan yang senantiasa aktual dan relevan dalam panorama perkembangan peradaban manusia, menunjukkan bahwa keadilan berhubungan dengan relasi antarmanusia. Dan meski tiap agen datang dengan arah tafsir yang berlainan, keadilan tetap mengarahkan manusia dalam relasinya dengan sesama di semua bidang kehidupan (Giovanni Aditya Arum). Demikian seni kehidupan, penakar peradaban. Pertunjukkan-pertunjukkan yang tampak di mata dunia merupakan kekuatan yang menghantar dan memampukan para agen (rasul dunia) untuk mendengar sabda dunia, mengubah persepsi, dan mengarahkan pengertian dalam sebuah tatanan yang logis, membuahkan kebenaran dan keyakinan yang sukar untuk disangkal (Yasintus T. Runesi).

    Manifestasi dari tatanan logis akan menuntun pengungkapan setiap sentimen kehidupan manusia. Bukan saja pendidikan, bukan saja keadilan, bukan hanya religi dan politik, tetapi juga soal keprihatinan akan kerukunan. Kerukunan antara manusia dan alam, didukung dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengolah kerukunan tersebut demi pengembangan alam kehidupan yang komprehensif dan berkelanjutan (Yohanes V.L. Usbobo).

     

    EDITORIAL:

    Oktovianus Kosat

    Program Studi Ilmu Filsafat, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira

    Jl. Prof. Dr. Herman Yohanes – Penfui – Kupang - NTT

    Email: kosatkote11@gmail.com

  • LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | November 2016 ~ April 2017
    Vol 9 No 2 (2017)

    Yoh 15:14-15 berbicara tentang persahabatan antara Yesus dan murid-murid-Nya, antara Allah dan manusia. Yesus, Logos yang telah menjadi manusia (Yoh 1:14), menyatakan di dalam diri-Nya Allah yang berteman dengan manusia dan memberikan nyawa-Nya sendiri karena kasih teman-teman (Yoh 15:13). Inisiatif dalam hubungan ini adalah Tuhan, dan karena itu menjadi sahabat-sahabat-Nya adalah sebuah karunia, suatu kondisi 'kasih karunia'. Bagi Yesus, para murid adalah teman dan bukan pelayan. Alasan untuk fakta ini diberikan baik oleh perintah kasih dan pengetahuan tentang wahyu Yesus. Teks Yohanes 15:14-15 adalah bagian dari pasal ini, menunjukkan bahwa khotbah perpisahan kedua pada Perjamuan Terakhir, dan dibagi menjadi 2 bagian: metafora pokok anggur (15:1-17) dan kebencian dunia (15:18-27). Banyak sarjana membagi bagian pertama menjadi dua bagian; metafora pokok anggur dan cabang-cabangnya (15:1-11) dan perintah kasih (5:12-17). Ada banyak perbedaan antara hamba dan sahabat, tetapi dalam ayat ini (15:15), Yesus dengan jelas hanya menunjukkan satuyaitu pengetahuan. Seorang hamba tidak tahu apa yang tuannya lakukan, jadi dia tidak memiliki pengetahuan tentang rahasia tuannya. Sebaliknya, Yesus memberikan kepada murid-murid-Nya apa yang telah dia dengar dari Bapa-Nya. Mereka, kemudian, memiliki pengetahuan. Yesus telah mengungkapkan kepada mereka misteri-misteri ilahi-Nya, rahasia-rahasianya, dan ketika para murid, mengenal dan menerima mereka, dan tetap percaya kepada-Nya, mereka menjadi sahabat (Yoh 1:35-51; 2:11; 6:68-69; 14:1-31a). Pengetahuan tentang rahasia-rahasia-Nya, kemudian, adalah titik sentral yang membedakan mereka sebagai teman.