Tentang Orkestra Para Penjilat

Main Article Content

Mikhael Rajamuda

Abstract

“Yang paling parah di antara binatang-binatang buas adalah sang Tiran, di antara binatang-binatang jinak adalah si Penjilat,” demikian awasan Filsuf Yunani Kuno, Plato, 2000 tahun silam. Awasan Plato dalam pidato-pidatonya kepada masyarakat Athena kala itu punya dua makna. Plato hendak mengingatkan bahwa, dalam hal perebutan kekuasan dan urusan hidup bersama dalam negara, jenis manusia yang harus diwaspadai adalah sang tiran. Yaitu seorang penguasa lalim dan sewenang-wenang. Penguasa yang merebut dan mengendalikan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Bahkan menghabisi musuh-musuhnya dengan cara-cara yang tidak sportif. Tetapi selain sang Tiran, menurut Plato, jenis manusia lainnya yang juga harus diwaspadai, adalah si Penjilat. Jenis manusia ini sangat oportunis. Ia sungguh berbahaya karena bisa hadir dalam banyak wajah. Di dunia politik, manusia jenis ini “master” dalam urusan konsolidasi kepentingan. Dengan orkestra ketundukan palsu di hadapan otoritas (pemegang kekuasaan), Ia bisa survival di segala macam cuaca politik. Senjata andalannya adalah kemunafikan.

Article Details

Section
Articles