Studi model rancangan hunian vertikal berdasarkan bentuk interaksi warga di bantaran sungai Winogo Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.30822/arteks.v3i2.68Kata Kunci:
model rancangan, hunian vertikal, interaksi warga, bantaran sungaiAbstrak
Bantaran sungai merupakan salah satu kawasan perkotaan yang sering mengalami penurunan kualitas lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah pemanfaatan bantaran sungai yang tidak seharusnya sebagai ruang bermukim. Sebagai konsekuensi hal tersebut, kualitas hunian yang layak bagi masyarakat menjadi sulit untuk tercapai. Pemerintah telah berupaya melakukan pembangunan rumah susun sebagai salah satu solusi permasalahan tersebut. Namun hal yang terjadi adalah beberapa warga meninggalkan rumah susun karena mereka merasa tidak cocok tinggal pada model hunian vertikal yang formal dan kaku, sehingga terkadang aspek kebersamaan dan interaksi warga tidak dapat ditemui seperti ketika mereka tinggal dalam sebuah lingkungan kampung. Tujuan dari penulisan ini adalah menghasilkan usulan model hunian vertikal berdasarkan bentuk interaksi warga di Kampung Gampingan yang berada di bantaran Sungai Winongo. Hasil dari penulisan ini diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif solusi bagi pemangku kepentingan dalam melakukan perencanaan dan perancangan permukiman khususnya pada kampung di bantaran sungai perkotaan.
© 2019 Sidhi Pramudito, Antonius Lanang Tegar Wicaksana Praptantya, David Jeffry Nasir
Unduhan
Referensi
Antariksa. 1985. “Rumah Susun, Sumber Masalah Baru.” Suara Indonesia, 1985.
BAPPEDA Kota Yogyakarta. n.d. “RencanYogyakarta.”
Forbes Davidson, M. R. 1993. “Relocation and Resettlement Manual: A Guide to Managing and Planning Relocation.” In . Institute for Housing and Urban Development Studies.
Kementerian PUPR. 2015. “Sekilas Informasi KOTAKU Kota Tanpa Kumuh.” In Kotaku Kota Tanpa Kumuh.
Lake, Reginaldo Christophori, Robertus Mas Rayawulan, and Donatus Arakian. 2018. “‘Keberlanjutan Dan Perubahan’ Orientasi Permukiman Kajian Fenomena Permukiman Airmata Di Bantaran Kali Kaca Kota Kupang.” In Seminar Nasional Riset Dan Teknologi Terapan (RITEKTRA 8), Prosiding, TA-28-TA-36. Makassar: Fakultas Teknik Unika. Atma Jaya Jakarta. http://www.uajm.ac.id/files/journals/prosiding/Prosiding Ritektra 8.pdf.
Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia. 2007. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun Sederhana Bertingkat Tinggi. Jakarta. http://ciptakarya.pu.go.id/dok/hukum/permen/permen_5_2007.pdf.
Nugroho, Agung Cahyo. 2009. “Kampung Kota Sebagai Sebuah Titik Tolak Dalam Membentuk Urbanitas Dan Ruang Kota Berkelanjutan.” Jurnal Rekayasa.
Pawitro, Udjianto. 2012. “MASYARAKAT KAMPUNG KOTA – KONDISI PERMUKIMANNYA DAN UPAYA PERBAIKAN LINGKUNGAN KAMPUNG KOTA (Studi Kasus RW-12 Kel.Babakan Surabaya Kec.Kiaracondong Kota Bandung).” Seminar Regional Pembangunan Jawa Barat 2012, Jarlit Jabar – LPPM Unpad.
Pemerintah Walikota Yogyakarta. 2016. Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor 216 Tahun 2016. Yogyakarta.
Pramudito, Sidhi. 2015. “Mengelola Kampung Dengan Kearifan Lokal (Belajar Dari Partisipasi Warga Di Kampung Gampingan Yogyakarta).” In Semina Nasional SCAN#6 Finding The Fifth Element After Water, Earth, WInd, and Fire, edited by SCAN#6, 177–87. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Rahmadi, D. K. 2009. “Permukiman Bantaran Sungai: Pendekatan Penataan Kawasan Tepi Air.” Bulletin Tata Ruang, 2009.
Sabaruddin, Arief. 2018. “Hakekat Hunian Vertikal Di Perkotaan.” In Prosiding Seminar Kota Layak Huni/Livable Space, 10–23. Jakarta: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti. https://www.trijurnal.lemlit.trisakti.ac.id/lslivas/article/view/2738.
Setiawan, Bakti. 2010. Kampung Kota Dan Kota Kampung: Tantangan Perencanaan Kota Di Indonesia. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Terian, Sara Karkkainen, and John Lang. 1988. “Creating Architectural Theory: The Role of the Behavioral Sciences in Environmental Design.” Journal of Architectural Education (1984-). https://doi.org/10.2307/1424898.
Wasesa, S. A. 2011. “Relokasi Dan Kuasa Atas Ingatan.” In A. M. Erlangga, Ruang Kota, edited by Erlangga, 149–57. Yogyakarta: Ekspresi.
Wikantyoso, R. 2009. “Kearifan Lokal Dalam Perencanaan Dan Perancangan Kota Untuk Mewujudkan Arsitektur Kota Yang Berkelanjutan.” Malang.
Yuliastuti, Nany, and Adinda Sekar Tanjung. 2011. “PENGARUH JALAN LINGKUNGAN SEBAGAI RUANG INTERAKSI SOSIAL TERHADAP LINGKUNGAN PERMUKIMAN BUNGUR, JAKARTA PUSAT.” TATALOKA. https://doi.org/10.14710/tataloka.13.3.190-196.

























