Circumambulation: The power of empty space in Prasawiya and Purwadaksina
DOI:
https://doi.org/10.30822/arteks.v10i1.2990Kata Kunci:
Circumambulation, Empty space, Prasawiya, PurwadaksimaAbstrak
Kajian tentang circumambulation telah didominasi oleh pergerakan ke kanan atau searah jarun jam (pradaksina). Sebaliknya pergerakan ke kiri jarang didiskusikan. Aktivitas gerak ruang fisik pada masyarakat Nusantara telah menjadi konsep ruang yang terpendam. Saatnya digali dan dimunculkan sebagai khazanah keilmuan Arsitektur Nusantara. Salah satu konsep gerak fisik itu adalah prasawiya dan purwadaksina. Artikel ini membahas circumambulation melaui aktivitas prasawiya dan puwadaksina pada Masyarakat Bali. Bagaimana konsep ruang circumambulation melalui gerak purwadaksina dan prasawiya? Artikel ini ditulis berdasarkan pendekatan kualitatif dengan strategi etnografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) istilah circumambulation dalam local Bali dikenal sebagai pemuteran; (2) prasawiya (berlawanan arah jarum jam) mendahului purwadaksina (searah jarum jam); (3) prasawiya memiliki makna mendaki dan sebaliknya purwadaksina memiliki makna menuruni pada sumbu vertical; (4). Prasawiya memiliki arti membersihkan, sedangkan purwadaksina berarti menyucikan; (5) relasi praswirya-purwadaksina membangun dualisme-harmony; (6) proses pemuteran prasawiya-purwadaksina menghasilkan konsep ruang kosong yaitu karang dan rong. Karang terjadi sebelum pelinggih dan rong terjadi setelah kehadiran pelinggih. Baik karang dan rong menghadirkan konsep ruang rwa-bhineda; dan (7) proses pemuteran pada mitos Mandhara Giri menjadi dasar orientasi kaja-kelod dan kangin-kauh. Namun orientasi sesungguhnya merupakan poros dunia yang direpresentasikan melalui ruang kosong: karang dan rong
Unduhan
Referensi
Chihara, Daigoro. 1996. Hindu-Buddhist Architecture in Southeast Asia. Leiden: E.J. Brill.
Desai, Devangana. 2009. "Krma Imagery in Indian Art and Culture." Atribus Asiae Vol. 69., No.2.
Driver, W. David, and Phil Wanyerka. 2002. “Creation Symbolism in the Architecture and Ritual at Structure 3, Blue Creek, Belize.” Mexicon 24 (1): 6–8.
Grapard, Allan G. 1982. “Flying Mountains and Walkers of Emptiness: Toward a Definition of Sacred Space in Japanese Religions.” History of Religions (The University of Chicago Press) 21 (3): 195–221.
Hartadijaya, Made Aries. 2022. “Membaca Konsep Bedawang Nala.” Malang: Universitas Brawijaya.
Idedhyana, Ida Bagus, and Made Mariada Rijasa. 2022. ‘Interpretation of the Bedawang Nala Ornament Located on the Base of Pura Pabean in Buleleng Regency Indonesia’. ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur 7 (2): 249–58. https://doi.org/10.30822/arteks.v7i2.1721.
Jumsai, Sumet. 1979. “Water and Mountain.” Ekistics (Athens Center of Ekistics) 46 (278): 334–38.
Kaliandra. 2007. The Temple Art of East Java. Pasuruan: Yayasan Kaliandra Sejati.
Kusdiwanggo, Susilo. 2015. “Pancer-Pangawinan Sebagai Konsep Spasial Masyarakat Adat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar.” Bandung: ITB.
Kusdiwanggo, Susilo. 2016. “Konsep Pola Permukiman Spasial Di Kasepuhan Ciptagelar.” Jurnal Permukiman 11 (1): 43–56.
Kusdiwanggo, Susilo. 2017. “Membaca Dualism-Antithesis Dan Dualism-Harmony Sebagai Dasar Memahami Konsensus Ruang Nusantara.” In Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia 6, I093-I100. Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia. https://doi.org/10.32315/ti.6.i093.
Kusdiwanggo, Susilo, and Jakob Sumardjo. 2016. “Sakuren: Konsep Spasial Sebagai Prasyarat Keselamatan Masyarakat Keselamatan Masyarakat Budaya Padi Di Kasepuhan Ciptagelar.” Panggung 26 (3). https://doi.org/10.26742/panggung.v26i3.194.
Lachporia, Sheikh Abdul Hamid. 2017. “Why Do We Walk Anti-Clockwise around the Kaaba?” Khutbah Bank.
Lee, Salim. 2020. Borobudur Bersemburat: Peninggalan Leluhur, Kini Warisan Dunia. Magelang: Bumi Borobudur.
Paramadhyaksa, I. N. 2009. Concept of Balinese Meru. Dissertation - Unpublished, Kyoto Institute of Technology., Kyoto: Unpublished.
Paramadhyaksa, I. W. 2017. “Landasan Konseptual Dan Penerapan Pradaksina Dan Prasawiya Dalam Perwujudan Arsitektur Hindu di Bali.” Seminar Nasional Arsitektur Dan Tata Ruang (SAMARTA), 59–68.
Pudyanto, Robertus. 2017. "Wujud Cinta Kasih Harapan dan Doa di Perayaan Waisak." Mei, 75 ed.: 56-63.
Snodgrass, Adrian. 1985. The Symbolism of the Stupa. 2nd ed. New York: Cornell University Press.
Spradley, James P. 1979. The Ethnographic Interview. Florida: Harcourt Brace Jovanovich College.
Stein, Deborah L. 2018. The Hegemony of Heritage: Ritual and the Record in Stone. 1st ed. California: University of California Press.
Sudhi, Padma. 1984. “An Encyclopaedic Study on Circumambulation.” Annals of the Bhandarkar Oriental Research Institute 65 (1/4): 205–26.
Trivedi, Kirti. 1948. “The Asymmetry of Symmetry: The Left and The Right in Hindu Philosophy, Art, and Life.”
Wijaya, I Kadek Merta, I Nyoman Warnata, and Ni Wayan Meidayanti Mustika. 2022. ‘Dualism in the Transformation of Balinese Ethnic Residential Architecture in Denpasar’. ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur 7 (3): 289–300. https://doi.org/10.30822/arteks.v7i3.1225.
Wright, J. C. 1966. “C. Hooykaas: Āgama Tīrtha: Five Studies in Hindu-Balinese Religion. (Verhandelingender Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen, Afd.Letterkunde, Nieuwe Reeks, Deel LXX, No. 4.) 253 Pp., 23 Plates, 5 Maps. Amsterdam: N. V. Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij, 1964. Guilders 35.” Bulletin of the School of Oriental and African Studies 29 (1): 206–206. https://doi.org/10.1017/S0041977X00061486.

























