Hilangnya karakter pedestrian shopping street Jalan Tunjungan akibat transformasi Surabaya sebagai Kota Metropolitan
DOI:
https://doi.org/10.30822/arteks.v4i1.81Kata Kunci:
Hilangnya karakter, Jalan Tunjungan, Pedestrian shopping street, TransformasiAbstrak
Pada umumnya, kota memiliki kawasan yang dikembangkan sebagai pusat aktivitas komersial. Pola perkembangan aktivitas komersial melahirkan tipologi pedestrian shopping street yang mengutamakan pejalan kaki dalam pola dan sistem aktivitasnya. Jalan Tunjungan Surabaya merupakan contoh kawasan perbelanjaan berbasis pejalan kaki yang dikembangkan pada masa pemerintahan Gemeente. Sejalan dengan perkembangan kota Surabaya, keunikan urban artefak kawasan Tunjungan bertransformasi dan kini didominasi bangunan bertingkat serta Jalan Tunjungan berubah menjadi poros kota. Keunikan Jalan Tunjungan yang menjadi daya tarik wisata terancam punah akibat tekanan dan tuntutan perkembangan perekonomian Surabaya. Melalui pendekatan sinkronik-diakronik dengan metode kualitatif-deskriptif, kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola, tipe, dan sistem yang membentuk karakteristik fisik-spasial pedestrian shopping street Jalan Tunjungan yang bertahan, beradaptasi, dan hilang akibat transformasi Surabaya sebagai kota metropolitan. Dari analisa komparasi, ditemukan bahwa yang bertahan hanya pola linearitas tatanan bangunan. Tipe jalan beradaptasi menjadi avenue searah dengan pembagian lajur jelas dengan penambahan sistem perparkiran on site. Selain itu, tipe bangunan beradaptasi menjadi bangunan komersial. Karakteristik arcade di beberapa bangunan hilang, sistem transportasi menghilangkan halte penumpang, jembatan tidak lagi berfungsi, dan juga pola perparkiran menganggu pola pedestrian. Jalan Tunjungan yang dulunya mengedepankan pengalaman berbelanja dan berjalan kaki mengalami degradasi menjadi area shopping street.
© 2019 Anneke Clauvinia Patriajaya, Yohanes Karyadi Kusliansjah
Unduhan
Referensi
Alexander, Christopher, Sara Ishikawa, Murray Silverstein, Max Jacobson, Ingrid Fiksdahl-King, and Shlomo Angel. 1977. A Pattern Language: Towns, Buildings, Construction. New York: Oxford University Press.
Alrianingrum, Septina. 2010. ‘Cagar Budaya Surabaya Kota Pahlawan Sebagai Sumber Belajar’. Universitas Negeri Surabaya. https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/16006/Cagar-budaya-Surabaya-kota-pahlawan-sebagai-sumber-belajar-studi-kasus-mahasiswa-pendidikan-sejarah-fakultas-ilmu-sosial-di-Universitas-Negeri-Surabaya.
Basundoro, Purnawan. 2016. ‘POLITIK RAKYAT KAMPUNG DI KOTA SURABAYA AWAL ABAD KE-20’. SASDAYA: Gadjah Mada Journal of Humanities 1 (1): 1. https://doi.org/10.22146/sasdayajournal.17025.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Effendi, Zainal. 2015. ‘Kembalikan Kejayaan Ikon Surabaya, Kawasan Tunjungan Tak Lagi “Bertopeng”’. DetikNews Berita Jawa Timur. 2015. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3100092/kembalikan-kejayaan-ikon-surabaya-kawasan-tunjungan-tak-lagi-bertopeng.
Habraken, N. John. 2000. The Structure of the Ordinary, Form and Control in the Built Environment. Edited by Jonathan Teicher. Paperback. Cambridge: MIT Press.
Handinoto. 1996. Perkembangan Kota Dan Arsitektur Kolonial Belanda Di Surabaya, 1870-1940. Yogyakarta: Diterbitkan atas kerjasama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Kristen PETRA Surabaya dan Penerbit ANDI Yogyakarta.
Hartono, Samuel, and Handinoto Handinoto. 2007. ‘SURABAYA KOTA PELABUHAN (SURABAYA PORT CITY) Studi Tentang Perkembangan Bentuk Dan Struktur Sebuah Kota Pelabuhan Ditinjau Dari Perkembangan Transportasi Akibat Situasi Politik Dan Ekonomi Dari Abad 13 Sampai Awal Abad 21’. DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) 35 (1): 88–99. https://doi.org/10.9744/dimensi.35.1.88-99.
Hartshorn, Truman A. 1992. Interpreting the City: An Urban Geography. 2nd Editio. New York: John Wiley & Sons Inc.
Hendrawan, Christianto, and Yohanes Basuki Dwisusanto. 2017. ‘Onsep Active Living Dalam Perancangan Jalur Pedestrian, Studi Kasus: Jalan L. L. R. E. Martadinata (Riau), Bandung, Jawa Barat’. ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur 2 (1): 15–32. https://doi.org/10.30822/arteks.v2i1.38.
Jayadinata, Johara T. 1986. Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan, Dan Wilayah. Edited by 3. Bandung: ITB.
Kostof, Spiro, Greg Castillo, and RIchard Tobias. 1999. The City Assembled : The Elements of Urban Form Through History. 1st North. Boston: Bulfinch Press.
Lake, Reginaldo Christophori, Yuliana Bhara Mberu, and Avitu Diaz. 2019. ‘ELEMEN-ELEMEN PEMBENTUK SISTEM KOTA-LAMA KUPANG’. Jurnal Arsitektur KOMPOSISI 12 (3): 257. https://doi.org/10.24002/jars.v12i3.2235.
Laskara, Gede Windu. 2018. ‘STRATEGI IMPLEMENTASI COMPACT CITY MENUJU PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN BERKELANJUTAN’. In INFRASTRUKTUR-BANGUNAN-KONSTRUKSI: Berbasis Lingkungan Kepariwisataan Berkearifan Lokal. Denpasar: Fakultas Teknik Universitas Warmadewa. https://www.researchgate.net/publication/332380047_STRATEGI_IMPLEMENTASI_COMPACT_CITY_MENUJU_PENGEMBANGAN_KAWASAN_PERKOTAAN_BERKELANJUTAN.
Mutfianti, Ririn Dina. 2013. ‘Mengembalikan Spirit of Place, Sebuah Upaya Mempertahankan Citra Koridor Jalan Tunjungan Surabaya’. E-Jurnal Eco-Teknologi UWIKA (EJETU) I (Vol 1, No 1 (2013)): 23–32.
Perdana, Denza. 2017. ‘Masa Depan Jalan Tunjungan Surabaya’. Suarasurabaya.Net. 2017. https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2017/Masa-Depan-Jalan-Tunjungan-Surabaya/.
Poerbantanoe, Benny. 1999. ‘THE LOST-CITY DAN LOST-SPACE KARENA PERKEMBANGAN PENGEMBANGAN TATA-RUANG KOTA Kasus : Koridor Komersial Jalan Tunjungan , Kotamadya Surabaya’. DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR VOL. 27, NO. 2, DESEMBER 1999: 31 - 39.
Salura, Purnama. 2010. Arsitektur Yang Membodohkan. 1st ed. Bandung: CSS Publishing.

























